Ekspetasi Petani terhadap BLM PUAP Rp. 100 Juta.

Sonoharjo, (05/02/2018)..Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) merupakan lembaga yang menjadi representasi bagi kelompok tani. Kata gabungan mengandung arti kumpulan dari beberapa lembaga atau organisasi, dengan hak maupun kewajiban yang sama. Ketika sudah melebur ke dalam gabungan artinya ada upaya untuk menguatkan diantara yang satu dengan yang lainnya,.

Pun yang terjadi di Desa Sonoharjo, bahwasannya kelompok tani yang sudah memiliki nomor baku berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati notabene menjadi anggota Gapoktan. Adalah Gapoktan Ngudi Makmur Desa Sonoharjo memiliki anggoata sebanyak 12 (duabelas) kelompok tani yang tersebar di wilayah Desa Sonoharjo. Ekspektasi para anggota Gapoktan dalam hal ini adalah anggota kelompok tani sangatlah besar kepada Gapoktan, diharapkan lembaga Gapoktan menjalankan fungsi mediator dan motivator kepada para anggotanya. Ketika para anggota mengalami kesulitan perihal permodalan untuk menyediakan sarana produksi pertanian (saprotan), tumpuan harapannya adalah Gapoktan.

Permasalahan klasik yang dihadapi para petani terlebih para petani kecil yang sering disebut juga dengan petani gurem adalah modal untuk mencukupi kegiatan pertanian. Petani gurem bak seorang marhen yang tidak mempunyai kapasitas ketika akan menjalankan aktivitasnya. Mahalnya biaya produksi menyebabkan para petani mengalami kesulitan dalam menyediakan benih padi unggul, alat produksi pertanian (alsintan), pupuk, dan muaranya adalah bagaimana peningkatan produktifitas hasil pertanian. Ini merupakan impian yang tidak mudah, embutuhkan sinergitas para pemangku kepentinga (stakeholder), petani tidak akan bisa secara sendiraan untuk mencukupi kebutuhan dari awal sampai akhir.

Upaya yang ditempuh Gapoktan Ngudi Makmur Desa Sonoharjo terkait kecukupan permodalan bagi para petani adalah berkompetisi untuk mendapatkan bantuan Peningkatan Usaha Agrobisnis Pertanian (PUAP). Besaran dana yang dialokasikan oleh Pemerintah yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian Kabupaten sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Alhasil  Gapoktan Ngudi Makmur dapat mengakses BLM PUAP pada pertengahan Tahun 2016. Dana tersebut telah disepakati oleh anggota dipergunakan untuk kegiatan simpan pinjam yang dikelola oleh Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

 

Perkembangan kegiatan usaha simpan pinjam yang dilakukan oleh LKM yang merupakan salah satu unit usaha Gapoktan Ngudi Makmur mengalami tren positif, terlihat dari Neraca yang diaporkan oleh LKM pada bulan Februari melalui RAT (Rapat Anggota Tahunan) tutup Buku Tahun 2017. Dari modal awal Rp. 100 juta, berdasarkan laporan keuangan LKM mengalami peningkatan menjadi sekira Rp. 118 juta, ini baru berjalan selama 2 (dua) tahun. Secara kesuluruhan perguliran pinjaman BLM PUAP tidak mengalami kendala yang berarti, repayment rate mencapai 100 % oleh karena integritas Ketua Kelompok Tani yang tinggi perihal tanggung jawab mutlak terhadap anggotanya yang memiliki pinjaman.

Ekspektasi para anggota gapoktan terhadap BLM PUAP tersebut, pada nantinya diharapkan menjadi embrio untuk mengembangkan unit usaha simpan pinjam dalam ranah tugas LKM sebagai penyedia permodalan bagi para petani. Status LKM berdasarkan hasil Rapat Anggota Tahunan pada bulan Februari ini, kedepan LKM akan menjadi Koperasi Tani agar pengelolaan kegiatan simpan pinjam lebih profesional dibawah naungan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi. Jika memungkinkan akan dijalin kemitraan antara Koperasi Tani dengan Lembaga Keuangan lainnya (BANK, BMT, BPR dan lian sebagainya) ihwal kebutuhan permodalan bagi para petani. Dengan begitu cita-cita luhur didirikan Kopoerasi Tani akan tercapai yakni untuk mensejahterakan anggotanya (petani)..

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan